Beranda > KELAKAR > STM (Sarung Tua Merana)

STM (Sarung Tua Merana)

Aroma basah udara pagi di kota Wonosobo membuat Umam selalu semangat menjalani kesibukan kuliahnya disamping demi mendapatkan uang jajan. Setelah jam klasik di rumahnya mendentangkan garputala  tujuh kali berturut-turut, Humam segera beranjak keluar rumah langsung menyalakan motor tua kebanggaannya bersiap diri menuju ke kampus.

Butuh waktu sekurangnya 15 menit waktu perjalan Umam sampai kampus dengan motor itu, itu juga kalo motornya gak ngadat di tengah jalan. Makanya untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk itu yang sebenarnya juga sering terjadi, Umam selalu berangkat satu jam lebih awal dan tidak lupa bawa satu set kunci lengkap termasuk kunci pipa buat jaga2 dari perampok, (emang sapa juga yang mo ngrampok motor tua?). Baru setengah dari perjalanan, tampak seorang kakek renta berkalung sarung tua sedang sibuk meniti jalan dengan kakinya yang mungkin hampir tidak bersendi lagi. Karena rasa ibanya terhadap orang tua itu, Umam segera berhenti dan menawarkan tumpangan menggantikan langkah kakek yang gontai itu.

“Kakek mau kemana? Mbonceng aku aja, tak anterin Kek”

“Tapi Kakek belum pernah naik motor le”. Jawab Kakek ragu-ragu

“Udah nggak papa nanti aku jalannya pelan kok” (ya iyalah, emang kapan motor itu bisa ngebut?)

“Terus Kakek naiknya gimana?” Tanya Kakek dengan mimik polosnya

“Owalah, lha selama ini Kakek hidup dimana to… di hutan ya?”

“Yah Kakek seringnya naik kebo kalo lagi nyari rumput”.

“Okelah Kek, anggap aja ni lagi naek kebo. Lha trus kaki kakek taruh situ tuh”. (sambil tangannya menunjuk foot step kanan dan kiri)

Setelah si kakek dipastikan siap, Umam segera menarik pedal gasnya pelan-pelan. Awalnya Umam agak kesulitan menjaga keseimbangan motornya karena ternyata kakek duduk dengan gaya doyong ke belakang. Baru lima menit perjalan mengantar kakek, tiba-tiba dengan gaya bicara kepayahannya si kakek minta berhenti. Sambil tetap menjalankan motornya Umam bertanya

“Lho kan belum sampai Kek, kok dah minta berhenti?”

Karena si kakek tidak juga menjawab Umam menengok ke belakang melihat kakek yang tidak juga bersuara.

“Astaghfirullahal’adziim…!!! Kakek kenapa kek?”

Umam terkejut melihat kondisi kakek yang menjulurkan lidah dan dengan sekuat tenaga berjuang menahan cekikan sarung yang dikalungkan di lehernya, karena ujung sarung tersebut nyangkut di roda belakang. Hari itu Umam mendapat pelajaran yang berharga, Naik Motor Pakai Sarung itu berbahaya.

Categories: KELAKAR
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.